Apa yang kita tahu tentang Knowledge Management ?

Binatang apa knowledge management itu? Satu hal yang pasti. KM menarik, menyenangkan, berbagi dan paling penting, memberikan nilai tambah.

Apa yang paling penting di organisasi?

Jika kita terlibat di organisasi, apa aset yang paling penting? Fasilitas, komputer, meja atau orang-orang yang berkompetensi di bidangnya? Temukan jawabannya disini

Apakah yang diatas selalu paling hebat?

Dalam organisasi formal yang terdapat atasan, rekan, dan bawahan, terkadang ada beberapa orang yang lebih banyak disukai dan dicari dibandingkan orang lain. Anehnya, orang itu tidak selalu atasan. Terkadang, dia hanya orang biasa. Network Analysis membantu kita mengidentifikasi mereka

Butuh referensi tentang Knowledge Management?

"Ilmu itu hanya milik Tuhan", kata seorang bijak. Jadi, kenapa harus menyimpannya untuk diri sendiri ? Lets share !

About Me

Ok, this section is not important. Tapi jika anda punya semangat dan ketertarikan yang besar dibidang KM, maka kita bisa lebih mengenal.

Showing posts with label network analysis. Show all posts
Showing posts with label network analysis. Show all posts

Monday, September 10, 2012

Social Network Analysis : An Introduction



Di tulisan sebelumnya kita sudah membahas tentang apa itu social network, bentuknya dalam organisasi, serta bagaimana peranan social network dalam keseharian kita. Artikel ini akan lebih banyak mengungkap potensi social network dalam pekerjaan atau kehidupan sehari-hari serta konsep dasar dari Social network Analysis (SNA).

Social network secara singkat menggambarkan bagaimana hubungan dan interaksi berjalan antara individu di organisasi ataupun perusahaan. Interaksi tersebut dapat menjadi berbeda tergantung bagaimana kita memandangnya dan hasil yang ingin didapatkan. Contohnya ialah social network di sebuah unit kerja dan kehidupan pribadi kita.

Dari satu objek, kita bisa mendapatkan banyak sekali jenis social network. Social network di pekerjaan misalnya. Bentuk social network yang dihasilkan karena kebutuhan penyelesaian pekerjaan akan berbeda dengan social network yang dihasilkan dari penyebaran berita atau gossip. Perbedaaan ini terjadi karena alasan sederhana. Kita cenderung memilih dengan siapa akan berinteraksi. Rekan kerja yang kita butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan bisa saja berbeda dengan rekan kerja yang kita anggap sahabat dan nyaman untuk bercerita. Begitupun ketika kita ingin bertanya hal teknis, diskusi ide, menyelesaikan tugas yang tertentu atau sharing pengetahuan. Kita, suka atau tidak suka, telah mengidentifikasi dan memilih dengan siapa akan berinteraksi dan untuk urusan apa. Sedikit menyebalkan memang, tetapi itulah nature manusia modern.

Sifat itulah yang mendasari Google membuat fitur Circle dalam aplikasi social medianya, Google Plus. Google sadar bahwa kita tidak ingin status “galau” yang kita tuliskan dibaca oleh bos atau klien. Begitupun kita tidak ingin posting motivasi atau terkait pekerjaan dikotori oleh beberapa teman yang tidak bisa menempatkan kata-kata pada tempatnya. Ya, walaupun tidak banyak dari kita yang menggunakan social media sebagai media branding personal tetapi tetap ada beberapa orang yang menggunakan social media sebagai tempat berkumpul dengan komunitas professional. LinkedIn contohnya. Social media ini lebih banyak ditujukan untuk professional atau entrepreneur yang hendak meluaskan jaringan pekerjaan dan peningkatan kompetensi. Contoh lainnya ialah beberapa perusahaan (korporasi atau personal) yang menggunakan Facebook sebagai media berhubungan dengan klien dan customer nya.

Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Terkadang kita menghindari berbicara terkait pekerjaan atau topik tertentu dengan beberapa orang. Entah karena perbedaan kebutuhan atau sekedar melupakan kerumitan dengan berdiskusi topik yang lebih ringan. Kita tidak berdiskusi bagaimana maintain client dengan pasangan atau berdiskusi tentang sepeda di komunitas motor. Kita melakukan ini. Sadar atau tidak. Suka atau tidak. Ini adalah hasil dari keteraturan dan keterbukaan informasi yang terkadang membuat kita berkumpul dengan individu yang memiliki kesukaan berbeda-beda.

Fakta yang menarik ialah ternyata dalam social network yang berbeda-beda tersebut sebenarnya ada pengetahuan, kesempatan, potensi dan kekuatan yang terkadang tidak kita sadari. Saya sering sekali mendapatkan kesempatan dan ilmu dari orang yang terkadang tidak disangka-sangka. Pekerjaan contohnya. Tawaran untuk bekerja sebagai konsultan saya dapatkan dari seorang teman yang secara kebetulan juga memiliki teman lain yang butuh pengganti dirinya sebagai konsultan di KMPlus. Semua terlihat kebetulan dan tidak direncanakan tetapi itulah kekuatan sebuah social network. Inilah potensi sebenarnya dari social network. Informasi dan pengetahuan sebenarnya kita dapatkan dari network itu sendiri. Bukan dari yang kita ketahui atau orang lain ketahui. No one knows everything, everyone knows something while all knowledge resides in humanity. Potensi yang besar tersebut hanya dapat terjadi jika social network saling berhubungan. Bayangkan jika saya tidak berdiskusi dengan teman saya tersebut dan dia juga tidak ngobrol via YM dengan teman SMUnya. Saya pasti masih terjebak dalam dunia marketing entah untuk berapa tahun lagi.

Kasus yang sama juga terjadi di organisasi formal dan terstruktur seperti perusahaan. Terkadang kita tidak menyadari bahwa orang yang terletak beberapa kubikal dari kita bisa jadi jalan keluar dari permasalahan pekerjaan yang sudah lama kita cari-cari. Sepele mungkin, tetapi jika berbicara dalam konteks perusahaan, keterlambatan penyelesaian masalah bisa berdampak pada kerugian bahkan kehilangan bisnis. Hal ini terjadi pada perusahaan tempat senior saya bekerja sebelumnya. Perusahaan tersebut adalah salah satu operator yang cukup ternama di Indonesia. Saat itu timnya sedang kebingungan mengatasi masalah interkoneksi jaringan yang berdampak pada voice call yang terus terputus. Masalah ini sudah sudah sedemikian rumit sehingga tim memutuskan meminta bantuan salah satu vendor. Sayangnya vendor juga tidak bisa banyak membantu tetapi mereka tahu siapa orang yang bisa menyelesaikan masalah tersebut. Anda tahu siapa orang tersebut ? Dia ada di perusahaan yang sama, lantai yang sama, hanya berbeda divisi, duduk tidak lebih 10 kubikal dari tim tersebut.

Hal serupa juga terjadi pada perusahaan sekelas Sempra Energy yang memiliki revenue mencapai 12 milyar USD. Pada satu titik, penjualan mereka menurun dan divisi marketing disalahkan karena tidak tercapainya target. Manajemen pun memutuskan pendekatan social network analysis sebagai salah satu alat untuk mengidentifikasi masalah. Mereka menemukan bahwa ternyata marketing yang selalu berhubungan dengan pelanggan kurang mampu memberikan penjelasan teknis dan problem solving yang dibutuhkan sehingga solusi pun tidak tepat dan pelanggan mulai berpindah. Marketing sebagai front liner diketahui terpisah dari para researcher dan programmer, pihak yang mengerti kebutuhan pelanggan dan solusinya secara menyeluruh. Hasil analisis juga memperlihatkan bahwa researcher dan programmer sebagian besar terpisah dari social network untuk penyelesaian pekerjaan. Jika ada, hanya beberapa orang dengan jabatan tinggi yang terus menerus diakses oleh marketing dan divisi lainnya sehingga terjadi penyumbatan (bottleneck) informasi. Sebagai sebuah perusahaan yang menekankan pada solusi, hal ini adalah masalah besar. Manajemen pun melakukan beberapa langkah strategis diantaranya menguatkan kolaborasi antara marketing dan researcher serta programmer. Hasilnya, revenue kembali meningkat dan isolasi atas researcher dan programmer menurun.    

Network dalam Perspektif Social Network Analysis  
Bagaimana cara memanfaatkan network ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka kita sebaiknya mengetahui komponen network dalam social network analysis.


Network didefinisikan sebagai sekumpulan actor/nodes yang dihubungkan oleh ties/links. Actor/nodes adalah kita, individu yang terlibat dalam sebuah network dan ties/links adalah hubungan dan interaksi yang terjadi antara kita dengan individu lainnya dalam sebuah network (jaringan). Nodes juga dapat berupa departemen, stakeholder (customer, regulator, vendor), atau organisasi lain. Tergantung bagaimana kita hendak melakukan analisis. Ties (hubungan) juga berbeda-beda tergantung tujuan dan kebutuhan. Bisa berupa tugas, saran, keahlian, informasi strategis, prosedur, hingga kedekatan emosional (pertemanan atau percintaan).

Social Network Analysis (SNA) berpendapat bahwa hubungan antar nodes sesuatu yang penting. Fokus SNA untuk mengetahui actor/nodes yang terlibat dan bagaimana hubungan terjadi. Dengan siapa actor terhubung, seberapa kuat hubungan terjadi, seperti apa hubungan terjadi, apakah hubungan terjadi satu arah atau dua arah, bagamana hubungan difasilitasi, melalui media apa hubungan terjadi hingga ke aplikasi lainnya seperti siapa yang memiliki hubungan (ties) paling banyak, siapa yang terisolasi dalam networks, bagaimana jarak (gap) dan rentang (length) antar masing-masing nodes, dimana terjadi bottleneck, siapa yang menjadi key player dan sebagainya.   

Yang menarik dari SNA ialah kemampuannya menterjemahkan network dan dinamika didalamnya menjadi bentuk yang terukur dan dapat dipertanggung jawabkan.Hal tersebut karena ilmu dasar SNA adalah statistika. Jacob Levy Moreno pada awal tahun 1930 tercatat sebagai praktisi yang pertama kali menggunakan istilah social network analysis dalam papernya. Pada awalnya SNA adalah kumpulan data statistika yang diolah sedemikian rupa sehingga terlihat hubungan antara satu data dan lainnya. Kemudian berkembang menjadi cabang ilmu statistika baru yang disebut sebagai sociology statistic. Cabang ilmu yang tidak hanya mengedepankan data sebagai acuan tetapi menggunakan ilmu-ilmu social, khususnya psikologi dan sosiologi untuk melihat kaitan dan menginterpretasikan data tersebut.

Kemampuan SNA dalam memberikan bukti konkrit ini yang kemudian menarik banyak pihak untuk menggunakannya secara luas. Fleksibilitas SNA dalam menganalisis bentuk hubungan membuat aplikasi SNA digunakan tidak hanya di organisasi yang mencintai data seperti bisnis, tetapi juga pada dunia militer, kepolisian, pendidikan, counter terrorism, bahkan politik.

Data dasar SNA sebagian besar didapatkan dari hasil survey terhadap anggota network. Pertanyaan yang diberikan didesain untuk mengetahui bagaimana hubungan terjadi, dengan siapa hubungan dilakukan, seberapa besar kekuatan hubungan antara nodes/actor, hingga media yang digunakan. Aspek lainnya dapat digunakan tergantung kepada bagaimana hasil akhir yang ingin diketahui seperti bagaimana hubungan terjadi dalam penyebaran berita, penciptaan inovasi, penyelesaian pekerjaan, diskusi peningkatan kompetensi dan lainnya. Hasil survey kemudian dianalisis menggunakan tools dan perhitungan matematika. Tenang saja, tools yang ada tersedia gratis dan memiliki komunitas yang selalu siap membantu jika kita menemukan masalah. Saya akan membahas tools ini di artikel terpisah.

Kunci dari SNA sebenarnya bukan dari analisis tersebut tetapi dari bagaimana kita melihat dan mengambil kesimpulan dari hasil analisis. Disinilah aspek sosial dan pengetahuan terhadap karakteristik network berperan penting. Interpretasi yang didapatkan sangat tergantung pada bagaimana kita melihat data tersebut sebagai suatu kesatuan ataupun bagian-bagian terpisah. Pada akhirnya rekomendasi terhadap perbaikan untuk menjawab permasalahan awal adalah nilai tambah yang bisa memberikan perbedaan. Sejujurnya, sebagian besar praktisi SNA memiliki kekurangan dalam aspek interpretasi dan rekomendasi. Wajar saja mengingat praktisi SNA sebagian besar ialah akademisi yang kurang memahami bagaimana mengaplikasikan rekomendasi SNA agar memberikan nilai tambah. Ini juga mengapa SNA kemudian memiliki cabang baru yang lebih berfokus pada aplikasi di organisasi formal dan informal seperti bisnis, yaitu Organizational Network Analysis (ONA).

Cabang SNA inilah yang lebih banyak saya tekuni mengingat profesi saya sebagai konsultan dalam bidang Knowledge Management. Aplikasi ONA dalam KM lebih banyak untuk optimalisasi aliran pengetahuan dengan cara mengetahui hambatan dan isolasi pengetahuan, individu yang memiliki kompetensi (Subject Matter Experts) serta meningkatkan kolaborasi antara individu. Kita akan membahas aplikasi ONA dalam organisasi dan bisnis pada artikel selanjutnya.    



Wednesday, May 30, 2012

Social Networking in Plain English



Apa itu social networks ? Banyak definisi yang menjelaskan pertanyaan tersebut. Kali ini saya akan sedikit share tentang salah satu definisi dan penjelasan singkat tentang social networks analysis yang dibuat oleh commoncraft.com.

Secara singkat dijelaskan definisi networks (jaringan) yaitu tahapan bagaimana kita mencapai satu titik ke titik lainnya. Contoh yang digunakan dalam video ini ialah ketika kita akan menuju kota Santa Fe dari kota Chicago maka yang kita harus melalui kota St. Louis dan Dallas. Hal yang sama terjadi ketika kita berkenalan dengan seseorang dimana seringkali kita menggunakan orang lain untuk mencapai orang yang kita tuju. Tahapan antara kita dengan orang yang ingin kita tuju itulah yang disebut social networks.

Permasalahannya ialah social networks dalam kenyataannya seringkali tidak terlihat. Kita hanya melihat seseorang yang kita kenal dan tidak bisa memanfaatkan jaringan dari kenalan kita. Kita seringkali tidak bisa memanfaaatkan social networks. Padahal ada kemungkinan dengan memaksimalkan social networks, kita bisa mendapatkan pekerjaan, kesempatan, bahkan pasangan :).

Yang menarik ialah bahwa orang yang kita kenal sama pentingnya dengan kemampuan kita melihat jaringan dari orang yang kita kenal tersebut. Bagaimana aplikasinya dalam dunia maya ? Video ini menjelaskan bagaimana social network cites membantu kita mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang jaringan kita dan jaringan orang yang kita kenal.    


Tuesday, May 29, 2012

Structural Network vs Social Network

Menurut Anda, Apa yang pasti ada di semua organisasi formal maupun informal di seluruh dunia ?

Jawabannya adalah struktur organisasi. Minimal setiap organisasi pasti memiliki peran-peran yang berkaitan dengan tanggung jawab. Entah itu ketua, sekretaris, atau bahkan anggota. Mudahnya ialah kita lihat Negara. Ada presiden, wakil presiden, menteri, dan pejabat-pejabat lainnya. Bahkan di bentuk paling sederhana, keluarga misalnya. Ada ayah, ibu, anak. Semua peran tersebut memiliki tanggung jawabnya masing-masing dan pastinya setiap tanggung jawab memiliki kekuasaan dan kekuatan.

Ketika kita berbicara tentang kekuasaan di organisasi, biasanya orang yang memiliki tanggung jawab dan kekuasaan paling besar ialah orang yang paling kompeten dan mampu di organisasi tersebut. Sebagai orang paling kompeten, maka seharusnya orang tersebut yang paling banyak dicari dan dibutuhkan oleh anggota organisasi lainnya. Contohnya di tempat kerja. Ketika mengerjakan tugas, orang yang paling kita harapkan ada untuk membantu pekerjaan ialah atasan kita karena dengan adanya atasan pekerjaan akan cepat selesai. Biasanya karena keputusan harus ada di tangan atasan atau memang atasan tersebut yang memiliki kompetensi paling baik. Sekali lagi, itulah yang seharusnya terjadi. Ada tingkatan-tingkatan yang secara normal harus kita lalui ketika menyelesaikan pekerjaan atau tugas. Struktur dan tingkatan tersebut yang kita kenal sebagai structural network atau organization structure

Disini mulai menjadi menarik. Structural network seringkali tidak terjadi di organisasi. Terkadang ketika menyelesaikan pekerjaan atau melakukan sesuatu di organisasi, kita tidak berkomunikasi dengan atasan tersebut. Kita cenderung mencari orang lain yang menurut kita lebih nyaman dalam bekerjasama, berdiskusi, atau sekedar suka membantu. Mengapa ini bisa terjadi ? Jawabannya mudah, karena bukan seperti itulah cara kita berinteraksi dengan orang lain. Untuk hal tertentu memang kita membutuhkan atasan yang memiliki kekuasaan lebih besar, tetapi kita juga kadang memilih untuk diskusi dengan orang lain karena kita nyaman. Bisa saja karena atasan sibuk, bahasanya terlalu sulit dimengerti, atau bahkan hingga hal sepele seperti, atasan galak :). Inilah yang kerapkali terjadi di organisasi, khususnya di kantor. Ada beberapa orang yang sebenarnya sangat pintar tetapi karena menurut kita dia bukan orang yang enak diajak diskusi atau telalu sulit bahasanya sehingga kita lebih suka diskusi dengan orang lain yang kemampuannya biasa-biasa saja tapi bisa menjelaskan dengan lebih mudah. Kasus lainnya ialah ketika ada seorang yang entah karena alasan apa (biasanya karena terlalu sibuk atau kita sungkan karena perbedaan jenjang jabatan yang terlalu tinggi) kita ragu untuk bekerja dengannya. Padahal kita butuh bantuan orang tersebut dan pekerjaan tidak bisa selesai tanpa dia. Bagaimana penyelesaiannya ? Akhirnya kita mencari orang yang kira-kira bisa membantu kita untuk bertemu atau bekerja dengan orang penting itu.

Dua contoh kasus diatas memberikan gambaran lebih jelas bahwa ternyata dalam pelaksanaanya, struktur organisasi yang bertingkat berdasarkan peran itu tidak begitu saja menggambarkan bagaimana interaksi terjadi di organisasi. Ada banyak orang yang mungkin saja tidak memiliki jabatan tetapi sangat penting karena dia memiliki akses ke orang lain. Pada akhirnya penjelasan diatas memberikan kita definisi tentang apa yang kita kenal dengan social network.

Secara singkat, penjelasan tadi digambarkan sebagai berikut :

Dari gambar diatas kita bisa melihat bahwa organisasi yang awalnya sangat terstruktur, kaku, ada garis perintah dan koordinasi ternyata jika disajikan dalam bentuk social network akan terlihat seperti sebuah jaring acak yang menghubungkan satu sama lain. Jika sedikit lebih jeli, kita juga akan melihat bahwa ada beberapa orang yang diakses lebih banyak dari orang lain. Yang menarik pula ialah bahwa orang paling banyak diakses bukan hanya Senior Executive yang menempati tingkat paling tinggi, tetapi Sekretaris yang biasanya tidak terlalu dipandang perannya.

Dalam hal ini yang menjadi penting dalam organisasi, terlepas dari informal atau formal, bukan lagi kekuasaan, jabatan, atau kepintaran seseorang tetapi kemampuan melakukan akses dan diakses oleh orang lain. Its not “what you can control” but “what you can acces”. Social Network memfokuskan pembahasannya pada interaksi sosial antara anggota organisasi dan bagaimana proses interaksi terjadi. Itulah mengapa social network kerapkali disebut sebagai “organizational x-ray”. Pada aplikasinya, social networks digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti :
  • siapa pemimpin yang sebenarnya dalam organisasi ?
  • siapa yang memilliki akses ke orang-orang penting?
  • dimana terjadi penyempitan informasi ?
  • bagaimana jika orang penting tidak ada ?
  • bagaimana memaksimalkan pemimpin dalam social networks ?
  • bagaimana agar orang penting bisa lebih banyak diakses ?
  • bagaimana menghilangkan penyempitan informasi ?
  • bagaimana menghilangkan grup yang terisolasi ? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Social Network bisa memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut salah satunya dengan memberikan gambaran visual social network yang terjadi dan serangkaian teknik analisis lainnya. Bidang yang membahas social network dan aplikasinya dalam organisasi kerap disebut Organizational Network Analysis (ONA). Kita akan membahas banyak contoh kasus dan aplikasi ONA di pembahasan selanjutnya.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...